Senin, 04 April 2011

BUDAYA "MERACUNI" PARA PETANI DI BOJONEGORO

Asss...
Dari hasil evaluasi musim tanam yang pertama ('DES s/d 'APRIL 2011), ternyata banyak petani kita masih fanatik dan arogan terhadap penggunaan pestisida kimia.
Sebenarnya boleh-boleh saja menggunkan pestisida kimia asal sesuai kebutuhan dan dosisnya tepat. tidak mudah memang merubah perilaku petani akan tetapi apabila petani di berikan pemahaman secara berlahan-lahan pasti akan timbul sutu kesadaran tentang hal tersebut.


Kita lihat fakta di lapangan ketika bercocok tanam petani sering terlambat mengendalikan hama ataupun penyakit. Kebiasaannya adalah ketika tanaman tersebut sudah terlihat gejala serangan maka petani akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan HPT (hama dan penyakit tanaman) termasuk menyemprot dengan semena-mena. kita ambil contoh ketika tanaman padi terserang wereng coklat maka yang dilakukan adalah menyemprotkan segala merk racun atau pestisida,padahal pestisida itu jenisnya banyak sekali tidak hanya untuk wereng saja hal ini yang kadang-kadang menjadi sebuah kesalahan tapi dilakukan berulang-ulang.

Perlu di ketahui pestisida untuk wereng adalah jenis insektisida. Akan tetapi pengendalian HPT tidak harus dengan penyemprotan pestisida kimia, kita punya banyak pengedali yang ramah lingkungan, kuncinya untuk pengendalian wereng adalah pengamatan, sering-sering kita pengamatan di lahan. Apabila tidak ada serangan sebaiknya tidak usah disemprot dengan pestisida kimia,tapi bila ada serangan yang intensitasnya tinggi kurang lebih 5 ekor per rumpun bisa dilakukan penyemprotan tetapi jangan langsung menggunakan pestisida kimia kita semprot dengan agensia hayati yaitu dengan beuveria.

Biasakan penggunaan pestisida kimia adalah solusi terakhir dan jangan sembarangan mencampur pastisida. karena penyampuran bahan kimia bila tidak sesuai justru akan bersifat netral atau tudak ada manfaatnya. Sedikit usaha yang telah kami lakukan adalah membuat lahan percontohan yang dimiliki oleh orang-orang yang berpengaruh di wilayah tersebut misal Kades,Pamong dll. Alhamdulillah dari usaha tersebut sedikit demi sedikit para petani semakin memahami tentang bertani yang ramah lingkungan, bukan bertani untuk meracuni anak cucu kita, tentu metode tersebut di iringi dengan pertemuan-pertemuan yang intensif.

Harapan kami semoga kedepan semakin banyak petani yang memahami pentingnya bertani yang ramah lingkungan dan menguntungkan,dan mengurangi sikap fanatik terhadap "racun" kimia. trmksh....wss.